Masalah di Lapangan
Kegagalan panel listrik di pabrik farmasi bukan sekadar isu downtime — dapat memicu investigasi mendalam dari quality department dan auditor cGMP. Setiap event yang berpotensi mempengaruhi temperature control area produksi, validasi peralatan steril, atau utility critical (compressed air, HVAC, deionized water) akan dipertanyakan: ‘Apakah ini bisa dicegah?’
Jawabannya hampir selalu sama: ya, dengan inspeksi infrared thermography yang terjadwal. Hot-spot pada sambungan listrik tidak muncul tiba-tiba — mereka berkembang selama berbulan-bulan, dari beberapa derajat di atas ambient sampai akhirnya gagal. Yang dibutuhkan: alat yang tepat dan teknisi yang terlatih untuk menangkapnya pada tahap awal.
Lingkup Pekerjaan
- Inspeksi infrared thermography pada panel MV (medium voltage) fasilitas
- Inspeksi pada panel LV — MDB, LVMDP, SDP, MCC
- Inspeksi pada distribution board area produksi farmasi
- Inspeksi pada terminasi kabel utama dan busduct
- Laporan dengan thermogram, image visual, dan kategorisasi urgency findings
- Rekomendasi tindak lanjut untuk masing-masing finding
Pendekatan Engineering & Solusi
Untuk fasilitas manufaktur farmasi sekelas Kalbe Farma, pendekatan SEI sangat ketat:
1. Persiapan inspeksi — kamera thermal yang digunakan adalah unit Class-A dengan resolusi thermal high enough untuk mendeteksi delta-T sekecil 0.5°C. Sebelum inspeksi, dilakukan koordinasi dengan production planning agar inspeksi dilakukan saat beban listrik representatif — bukan saat shutdown atau idle, karena hot-spot hanya terdeteksi saat ada arus mengalir.
2. Metode inspeksi — setiap panel dibuka dengan supervisi engineer bersertifikat AK3 Listrik (panel MV require LOTO procedure dengan switching authority). Kamera thermal merekam thermogram dari setiap section. Setiap finding hot-spot didokumentasi dengan: image thermal, image visual, delta-T relatif terhadap referensi (titik dingin di area yang sama), dan tagging lokasi presisi.
3. Kategorisasi — setiap finding dikategorikan berdasarkan delta-T mengacu standar NETA:
– ΔT < 10°C: monitoring (recurring inspection berikutnya)
- ΔT 10–30°C: serious (perbaikan pada window maintenance terdekat)
- ΔT > 30°C: critical (immediate action required)
4. Reporting — laporan disusun untuk audiens facility engineering: visualisasi yang jelas, root cause hypothesis untuk setiap finding (loose connection / oxidation / overload / corrosion), dan recommended action yang actionable.
Standar yang Diacu
- ASTM E1934 — Standard Guide for Examining Electrical and Mechanical Equipment with Infrared Thermography
- NETA MTS — Maintenance Testing Specifications: kategorisasi delta-T
- NFPA 70B — Recommended Practice for Electrical Equipment Maintenance
- ISO 18434-1 — Thermography in condition monitoring
- PUIL 2011 (SNI 0225) — Safety procedures untuk inspeksi panel bertegangan
Hasil & Manfaat
Inspeksi berhasil menangkap beberapa finding hot-spot pada sambungan dan terminasi kabel — semua pada tahap awal, jauh dari titik kegagalan. Facility engineering Kalbe Farma mendapat list tindakan prioritas yang actionable, dengan urgency level yang clear: mana yang dapat menunggu next maintenance window, mana yang membutuhkan immediate attention.
Untuk Kalbe Farma sebagai listed pharmaceutical company, hasilnya: bukti due-diligence pada pemeliharaan critical utilities — sebuah elemen yang dipantau auditor dan menjadi bagian dari quality system.
Pelajaran untuk Industri Sejenis
Untuk industri yang sensitif terhadap downtime atau kontaminasi (farmasi, F&B, semiconductor, data center), infrared thermography tahunan adalah baseline minimum. Untuk fasilitas dengan asset critical, frekuensi 6-bulanan atau bahkan triwulanan untuk area kritis adalah praktik yang lebih konservatif. Biaya inspeksi adalah fraksi kecil dari satu kejadian failure yang mempengaruhi produksi.